Showing posts with label 2nd thoughts. Show all posts
Showing posts with label 2nd thoughts. Show all posts

Friday, 20 February 2009

dunia bernama dia

Aku benci dunia.

Saat kusampaikan itu, apa yang akan kau katakan? Mungkin ka
u akan berkata aku egois. Mungkin kau akan berkata aku munafik. Tapi itulah adanya. Aku tidak mengada-ada. Aku tidak mengarang-ngarang cerita.

Aku benci dunia.

Seandainya ada kata yang menggambarkan satu tingkat rasa di atas benci, aku akan menggunakannya.

Definisikan dunia untukku. Dan aku akan mendengar berbag
ai macam jawaban. Sebagian besar akan menjawab dunia adalah anugerah bagi manusia sebagai tempatnya lahir, tumbuh, dan mengejar cita-cita. Sebagian lagi dalam besar yang sama akan menjawab dunia adalah perjalanan, di mana di sepanjang jalan itu kita akan berpapasan dengan banyak orang; menyapa mereka, berbincang, dan saling membantu saat ada kerikil atau bahkan batu besar yang menghalangi langkah.

Dunia bagiku? Tidak ada. Tidak ada dunia bagiku. Hanya sekedar kata yang kugunakan untuk mewakili suatu ruang dan masa di mana aku dipaksa ada, meskipun hari-hari selalu berlari meninggalkanku, bahwa keberadaanku tidak pernah dan tidak akan pernah penting baginya. Dengan atau tanpaku, waktu akan terus berputar. Begitu juga dengan dunia.


Seperti itulah hubungan yang selama ini kujalin dengan dunia. Ia melahirkanku bukan karena ia ingin, tapi karena ia harus. Dan aku terus hidup bukan karena aku ingin, bahkan tidak juga harus. Aku hanya seonggok manusia yang tidak merasakan tanah meski kakiku berpijak di atasnya. Tidak merasakan udara meski dadaku bernapas. Tidak merasakan cahaya meski aku tidak buta. Tidak merasakan rasa meski tanganku menyentuh.

Lalu kenapa aku masih juga ada?

Karena aku terlalu pegecut untuk membebaskan diriku sendiri.

Dan karena aku pandai berpura-pura.

Aku akan ikut tertawa saat mereka bahagia. Aku akan ikut nelangsa saat mereka sedih. Aku akan bersimpati saat mereka butuh dukungan.

Aku teman yang sempurna. Dengan topeng yang sempurna. Aku telinga yang mendengarkan semua keluh kesah mereka. Aku bahu yang menjadi tempat mereka bersandar saat lelah. Aku lengan yang memeluk mereka saat merana dan tak kuasa menahan tangis.
Telah kuukir topengku dengan sempurna. Bahkan pemahat terbaik pun tak bisa menandingi lekuk senyum setulus yang kuciptakan, tidak juga mata sendu yang kulukis saat mereka mengutarakan betapa melelahkannya dunia. Dunia mereka.

Aku aktor yang sempurna. Dengan ekspresi tanpa cela. Dengan kata-kata indah tanpa terdengar dusta.

Dan kesempurnaan itulah yang membuatku membenci dunia.

Kenapa aku harus bersikap manis pada dunia jika dunia tidak bersikap manis padaku?

Orang-orang itu sudah terlalu lama menuntutku untuk memerankan kesempurnaan itu. Orang-orang itu sudah menempaku sedemikian keras seperti pandai besi menempa pedang terbaiknya. Yang tanpa cacat, tanpa retak.

Dan begitulah aku. Seperti pedang itu, aku terlalu hanyut dalam kesempurnaanku, hingga aku lupa seperti apa hidup yang sebenarnya. Seperti apa emosi yang sebenarnya. Meski aku bisa tersenyum, tertawa, dan bersedih, aku tidak bisa mengerti alasan untuk semua itu.

Seperti pedang itu, aku telah dibentuk lurus dalam garis yang sempurna, dan dibekukan dalam air yang dingin ketika panas masih menggerogoti kulitku, hingga aku menjadi sekaku dan sedingin besi. Kokoh bagi mereka yang memandangku. Tapi pernahkah mereka benar-benar memandangku?

Dan seperti pedang itu, aku memberi batas bagi mereka untuk tidak berada terlalu dekat denganku. Aku dapat melukai mereka kapan saja. Hanya jika aku ingin. Tapi selimut pedangku juga dirajut dengan sempurna.

Sudah kukatakan aku sempurna. Ragaku terlalu pandai membungkus ketiadaan jiwa di dalamnya. Tidak ada yang perlu dan akan tahu bahwa aku tidak memiliki diriku. Seperti aku tidak memiliki dunia.

”Hei!”

Tepukan ringan hinggap di bahuku, menyalakan alarm dalam tubuhku untuk kembali mengenakan topeng terbaikku.

”Terima kasih mau menemaniku!”

Aku tersenyum. Senyumku yang sempurna.

”Tentu saja. Itu gunanya teman.”

Ia tertawa senang, merangkul tubuhku dengan lengannya yang panjang dan ramping, membawaku duduk di bangku tepat di sampingnya.

Aku sudah pernah mengikuti kelas ini. Secara infromal. Bertahun-tahun yang lalu. Dan aku cukup yakin sekarang pun, setelah sekian lama, aku masih memiliki apa yang kupelajari dulu.

Tapi aku teman yang sempurna. Kutemani dia dengan resiko bosan yang tinggi. Apa bedanya? Dunia toh tidak pernah berbaik hati padaku dengan cara apa pun.

Mereka di ruangan itu segera menyukaiku, meski baru pertama kali bertemu. Seperti itulah mereka selalu memperlakukanku. Sebagai seseorang yang manis laku dan ucapnya.

Hari ini akan berakhir sama seperti hari-hari sebelumnya. Dalam sekejap yang tidak bisa kurasakan. Dan akan segera berganti dengan hari baru yang masih juga akan selalu sama.

Tapi aku salah. Ada cacat dalam hariku yang seharusnya kulalui dengan sempurna.

”Gantikan aku,”

Katanya dengan nada ketus yang jarang kudengar, menghujamku dengan serta merta, diiringi tatapan nyalang yang tak bisa kuelakkan.

”Aku tidak mau satu kelompok dengannya. Gantikan aku. Dengan siapa saja.”

Dan aku dapat membaca kata selanjutnya yang ingin diucapkannya, tertulis jelas di sepasang mata yang memandangku seperti noda yang seharusnya tak ada.

Selain dia.

Aku aktor yang sempurna. Aku bersikap manis pada semua orang, dan semua orang bersikap manis denganku, terperdaya topeng yang membungkus erat selongsong kulit wajahku. Tapi tidak dengannya.

Sekali itu sadarlah aku, aku telah dibenci. Oleh orang yang baru saja kutemui. Yang bahkan tak kuketahui namanya.

Aku bertanya-tanya apa yang salah pada topengku, hingga berhari-hari ke depan mata nanar itu masih juga terbakar merah oleh sesuatu yang tidak bisa kumengerti saat menatapku. Bencikah itu? Atau sesuatu di luar kemampuanku untuk menerjemahkan emosi?

Aku tak tahu.

Dan seharusnya aku tak peduli.

Tapi ia berbeda. Ia umpama pengecualian dalam duniaku yang semu. Ia seperti orang asing yang semestinya tak ada di sana. Sepertiku.

Dan itulah jawabnya.

Setelah berminggu-minggu aku termangu dengan ia yang menganggapku seolah ancaman bagi hidupnya yang selama ini tenang dan tertata, meski aku tak pernah bertukar sepatah kata pun dengannya. Ia akhirnya memberiku jawabnya. Jawab yang memberitahuku mengapa ia berbeda.

“Hentikan,”

Katanya sore itu, saat aku sampai di muka pintu, bergegas ingin pergi dan tak ingin jadi orang terakhir yang bersamanya saat itu. Lengannya terulur menghalangi jalanku. Aku mendongak, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar memandang matanya. Coklat tua yang lebih dalam dari yang bisa kuperkirakan dan kutempuh. Memancarkan warna merah seperti biasanya, yang masih juga belum kumengerti.

“Lepaskan itu,”

“Apa?”

“Lepaskan topengmu.”

“Apa maksudmu?”

“Kubilang, lepaskan topengmu. Tanggalkan senyummu, buang semua kata-kata manismu.”

Aku hanya diam, memilih untuk berpura-pura, seperti biasa. Mata coklat itu melembut, warna merahnya memudar. Tapi kata-katanya mengiris-ngiris topeng sempurnaku, perlahan tapi pasti.

”Aku muak denganmu yang seperti itu.”

”Izinkan aku bertanya mengapa.”

Merah itu kembali menyala. Tapi kali ini aku tidak menghindarinya, sekalipun aku tidak memahaminya.

”Aku melihatnya di matamu,” bisiknya dengan tajam, meretakkan beberapa keping dari topengku, ”warna merah yang sama.”

Ternyata aku salah. Dia bukannya berbeda. Dia justru begitu serupa denganku, jauh lebih serupa dari yang bisa kuduga.

Tapi lelaki bermata coklat terbakar itu lebih kuat menghadapi dunia. Tak sejengkal pun dari wajahnya yang terlapisi topeng, tak ada selapis baju besi pun yang digunakannya, seperti yang kulakukan. Ia jujur pada dunia.

Ia tahu dirinya membenci dunia, dan ia ingin dunia tahu itu. Ia tidak bersusah payah memahat topeng, tapi membiarkan dunia melihat warna merah di matanya itu.

”Tidakkah kau lelah?” tanyanya.

Warna merah itu melembut, dari api menjadi senja.

”Kau membiarkan dirimu kalah dengan sikap manismu. Dunia menertawakanmu.”

Aku tahu itu. Tapi tahukah engkau? Telingaku sudah tuli akan tawanya.

”Biarkan aku jadi pengecut.”

Ia menyahutiku dengan diam. Tatapan kami bertemu. Dan untuk pertama kalinya, kulihat warna merah yang sama pada wajahku, di dalam matanya. Ternyata ia benar.

Tangannya mengendur, memberiku jalan untuk lari. Tapi kakiku sudah kelu.

”Tetaplah hidup.”

Dan kupandangi punggung itu menjauh.

Hariku tak lagi sama.

Ia membawa cacat dalam kesempurnaan yang kubangun dengan penuh peluh. Ia menyusup ke dalam duniaku melalui celah kecil yang tak kusadari. Ia bersembunyi dalam titik buta yang luput dari indraku.

Ia terus mengawasiku dengan mata merahnya. Tapi kini aku tak lagi takut. Warna merah yang seolah membakar kulit dan topengku itu bagai candu bagiku. Aku sanggup hidup tanpa menghirup udara, tapi aku merasa akan mati tanpa rasa panas itu.
”Aku membencimu.” katanya padaku, pada sore yang lain.

”Aku membencimu, seperti aku membenci semua orang. Dan aku jauh lebih membencimu setelah kutemukan warna itu di matamu.”

Kubiarkan diriku mati rasa. Kunikmati setiap bara yang kulihat di matanya. Dan sekalipun ia akan menghanguskanku menjadi abu, aku yakin aku tidak peduli.

”Tapi kau ada di sana.”

Bisikannya menyentuh telingaku yang tuli, menggelitik pendengaranku, membangunkan pikiranku yang tertidur.

“Kau penyusup dalam duniaku. Langkahmu tak terdengar olehku. Saat aku telah terbiasa dengan hitam, satu-satunya warna yang pernah kukenal, tiba-tiba kau hadir. Kau menjadi satu-satunya warna merah yang tertangkap mataku.”

Sekali lagi kulihat senja di sana.

”Aku ingin menghalaumu. Sudah kunyalakan api agar kau menjauh, lenyap menjadi warna hitam yang sama. Tapi kau selalu ada di sana. Aku ingin lari darimu, tapi tak selangkah pun aku sanggup berpaling.”

Jemarinya terulur ke wajahku, tapi dihentikannya sebelum sempat kurasakan sepanas apa kulitnya. Ia tak pernah menyentuhku.

”Aku tak ingin kau lenyap.”

Dan kututup hariku dengan kembali memandang punggungnya menjauh.

Biarkan aku jadi pengecut. Biarkan dunia menertawakanku. Karena memang begitulah ia memperlakukanku. Melahirkanku sebagai pedang, bukan sebagai burung.

Aku sudah sempurna saat dibenamkan dalam air dingin, tapi mengapa sekarang aku merindukan panas itu?

Aku tak lagi sempurna. Aku cacat. Aku rusak. Dan tak ada gunanya memperbaikiku. Karena aku menikmati tiap toreh itu.

Aku tak lagi sempurna. Aku terkoyak. Aku berdarah. Dan tak ada gunanya mengobatiku. Karena aku menikmati tiap tetes warna merah itu.

Warna yang sama dengan matanya.

”Aku lelah.” katanya padaku, pada sore yang lain.

”Aku lelah dengan hitam itu. Aku lelah berusaha menutup mataku darimu. Aku lelah dengan dunia.”

Aku tahu itu. Tapi tahukah engkau? Lelah itu bahkan telah lelah mengejarku.

Ia tak pernah menyentuhku.

Tapi tangannya terulur padaku, pada sore itu.

Dan senja ada di matanya.

“Raih tanganku.”

“Izinkah aku bertanya mengapa.”

“Karena aku melihat senja di matamu. Dan tak akan kubiarkan hitam merusaknya. Tidak. Tidak akan ada aku. Kau. Dunia. Aku tidak butuh semua itu.”

”Aku hanya butuh kita.”

”Dan kau tak perlu berpura-pura saat bersamaku.”

Kuraih tangannya. Dan panas itu membakarku hingga ke tulangku, meleburku menjadi abu. Dan ia membiarkan dirinya menjadi abu yang sama.

Aku memang benci dunia.

Aku memang tak memiliki dunia.

Tapi kini aku hidup dalam sepetak dunia itu untuk selamanya.

Karena aku ingin. Karena aku harus.

Sepetak dunia bernama dia.



Untuk dia yang terlupa.

Monday, 16 February 2009

serupa malam

Siapa yang memutuskan pagi adalah awal? Siapa pula yang memutuskan malam adalah akhir dari hari?

Bagiku pagi hanya formalitas, yang akan terus bangun ke permukaan langit tanpa jera. Dan malam terlahir hanya untuk mendampinginya, memberinya waktu untuk sejenak menidurkan sinarnya.

Tapi aku tahu seseorang yang tidak menganggapnya begitu.

Satu lagi malam kulewati, dan sekali lagi aku berusaha untuk menyibak selimut kegelapan yang menyelimuti bumi, hanya untuk melihat matahariku terbit.

Tapi tidak.

Pagi telah lama membuka matanya. Sinarnya menyusup anggun melewati bingkai jendelamu, meninggalkan bayang-bayang pucat di lantai kamarmu. Dan kau di sana. Wajahmu bahkan lebih pucat dari bayang-bayang itu.

Kalau memang pagi adalah awal, kenapa kau masih juga berkelana dalam mimpimu? Kenapa kau masih juga membiarkanku duduk diam dalam ruang kesunyian tanpa pijar dari bola matamu? Sambil terus menantimu berkata, ”selamat pagi”.

Seharusnya aku tahu. Aku telah mengenalmu cukup lama untuk tahu bahwa kau orang yang adil. Selalu adil. Bahkan pada matahari dan bulan. Bagimu tidak ada hal yang dapat mengaturmu untuk apa pun. Tidak juga untuk bangun dan tidur. Tidak juga untuk menentukan mana yang awal dan mana yang akhir.

”Kau tahu?”

Hari itu kau genap 12 tahun, dan alam seolah ikut merayakannya bersamamu. Langit mengenakan birunya yang terbaik, dengan selaput tipis awan yang menggantung menghiasinya. Matahari tidak terhalang apa pun untuk menyampaikan cahayanya yang paling cemerlang, hanya untukmu. Bahkan malam juga mengistimewakanmu. Gaun kegelapan langit berkilau dalam rimba bintang, berpendar dalam keheningan yang kau cintai, ditemani bulan yang menjadi lentera pribadimu.

”Ayah memberikan tempat ini untukku!”

Napasmu terengah-engah, dinginnya malam tak sanggup menahan peluh untuk membasahi wajahmu. Tapi aku tahu ada kebahagiaan yang tak terkira membuncah dalam dadamu. Terlalu besar untuk diungkapkan dalam kata, terlalu indah untuk ditorehkan dalam aksara. Tapi senyummu meneriakkannya dengan lantang.

”Dulu ini tempat bermain ayah saat kecil,” kau mulai bercerita.

Aku duduk di sampingmu, di bawah pohon besar yang memayungi kita dengan lengan-lengan dahannya yang kokoh. Dedaunannya bergemerisik merdu ditiup angin malam. Dan kudengarkan kau bercerita.

”Di sini ayah belajar tentang hidup. Di sini ayah belajar bahwa alam adalah saudara kita, dimana tanah dan langit selalu setia memeluk raga kita tanpa pernah lelah, meskipun terkadang kita menyakitinya,”

Kau belai rerumputan di bawahmu dengan lembut, seolah membelai seorang adik. Kembali kulihat senyummu itu. Senyum yang pantas disandingkan dengan indahnya bulan di panggung malam.

“Dan ayahmu memberikannya untukmu?”

“Ya,“ matamu menatap lurus padaku, memenjarakanku dalam keteduhannya.

“Dulu aku pernah ke tempat ini. Dan langit malam yang terindah kutemukan saat itu.“

Wajahmu menengadah, matamu berlabuh jauh di atas sana, ke langit malam yang seolah sengaja menghias diri secantik-cantiknya untukmu malam ini. Kau mendesah, dan tahulah aku betapa kau merindukan wajah langit yang seperti itu.

“Dulu aku masih terlalu kecil, dan ayah tidak pernah mengizinkanku untuk datang ke sini lagi. Mungkin karena beliau tahu kalau dia memperbolehkan, aku akan datang pada malam hari, saat di mana ayah ingin aku aman di dalam rumah.“

Senyummu berubah menjadi tawa, mengalir dari bibirmu yang tulus berkata.

“Tapi sekarang tidak lagi. Ayah akhirnya memutuskan aku sudah cukup besar untuk mendaki kemari seorang diri. Dan aku sudah cukup besar untuk mulai belajar sepertinya,“

Matamu masih juga belum lepas dari wajah itu, menyusuri tiap kerlip bintang yang membalas senyummu. Aku di sana memandangimu. Hanya satu saja sisi wajahmu, tapi itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku cemburu pada langit yang begitu kau cintai. Tapi aku tahu aku memiliki apa yang langit malam tidak miliki.

Matahari pribadiku.

Lalu tiba-tiba kau menoleh, dan kulihat semua sisi dari wajahmu.

“Ternyata benar, langit malam yang terindah ada di sini.“

Aku tersenyum menanggapi ungkapan cintamu pada malam.

“Syukurlah kau memiliki tempat ini.“

”Ya. Dan kau tahu?”

Kutemukan lagi senyum itu, yang mengungkapkan lebih banyak bahagia dari sebelumnya.

”Ini bahkan lebih indah dari saat ini. Karena kau menemaniku.”

Dan saat itu aku berharap matahari tak pernah terbit.

Aku bangkit dari dudukku, untuk berdiri lebih dekat denganmu, membungkuk untuk mengecup keningmu. Dan pada kau yang masih juga bercengkrama dengan mimpi, aku membisikkan dua kalimat yang sama seperti yang kuucapkan kemarin pagi. Dan kemarinnya lagi. Dan berpuluh-puluh kemarin yang lain.

”Selamat pagi. Aku merindukanmu.”

Matahari merayap semakin tinggi, dan kini ruanganmu terang benderang. Hanya ada aku di sana. Menggenggam erat tanganmu yang lemah, menemani tubuhmu yang rapuh.

Aku masih berharap matahariku terbit.

”Kau tahu?”

Kuingat lagi saat itu, bertahun-tahun setelah bukit itu resmi menjadi milikmu. Malam masih juga berwajah manis, seperti malam-malam sebelumnya yang tak pernah kau lewatkan. Seperti juga aku yang tidak pernah melewatkan untuk bersamamu.

”Bulan tidak diperlakukan dengan adil.”

”Kenapa?”

”Tidakkah kau lihat? Bulan begitu cantiknya di atas sana. Dan dia tidak pernah tidak memberi terang saat malam tiba. Aku tahu cahaya bulan tidak seterang matahari, tapi cukup untuk menuntunku menemukan jalan pulang. Cukup untuk tetap memberi hidup pada malam. Tapi orang-orang selalu melewatkannya. Mereka mengganggap bulan hanya sebagai pendamping tidur di luar jendela mereka yang tertutup rapat oleh tirai. Dan bulan masih juga ada di sana tanpa mengeluh, terus menemani tidur mereka.”

Aku tersenyum. Pembelaan terhadap bulan hanya keluar dari mulutmu. Tapi yakinlah, aku tidak menganggapnya omong kosong. Tidak juga aku iri pada bulan, walaupun aku lebih suka matahari.

”Tidakkah kau berpikir matahari juga diperlakukan dengan tidak adil?”

”Kenapa?”

”Mataharilah yang disalahkan untuk setiap pagi yang terlalu dingin, dan siang yang terlalu melelahkan. Padahal matahari juga tidak pernah tidak memberikan semua cahaya yang dimilikinya, agar orang-orang dapat menemukan tujuannya. Matahari juga tidak pernah mengeluh, sekalipun harus membiarkan dirinya panas terbakar untuk dapat memberikan hidup pada pagi. Siapa yang tahu apakah panas itu menyakitinya atau tidak?”

Kau terdiam mendengarkanku bicara. Aku tahu kau selalu adil, bahkan pada bulan dan matahari.

Senyummu merekah.

”Temani aku melihat matahari terbit besok pagi,”

Aku tidak pernah bisa menolak permintaanmu. Aku mendaki bersamamu untuk melihat matahari terbit esok paginya. Dan beratus-ratus pagi setelahnya.

Aku tahu kau selalu adil.

Dan kecintaan pada matahari membuahkan sebuah permintaan baru.

”Kau tahu?”

Saat itu kita hampir dewasa. Dalam sekejap waktu kita akan menanggalkan kulit kepolosan dan keluguan yang kita miliki. Kita akan belajar tidak hanya di bukit itu, tapi juga di bukit-bukit yang lain.

”Matahari adalah pengabul permohonan yang baik,”

”Kenapa?”

”Selama ini bintanglah yang selalu jadi tempat permohonan. Mungkin karena bintang yang walau kecil namun berkilau di antara luasnya langit. Tapi sekarang aku sadar matahari juga bisa melakukannya. Bukankah matahari juga walau mungkin itu menyakitinya, ia tetap berjuang memancarkan sinar untuk melelehkan dinginnya pagi? Karenanya aku yakin matahari bisa mengabulkan permohonan kita.”

Di tanganmu tergenggam sebuah botol kaca. Bening, tampak rapuh. Tapi kau mempercayakan permohonan rahasia kita padanya. Kau yakin kaca itu akan menjaga baik-baik dua carik kertas berisi pesan kita pada matahari, saat kau menguburkannya di bawah pohon besar itu. Pohon yang selalu memayungi kita, dalam dinginnya malam saat bulan hadir dan dinginnya pagi saat matahari menyapa.

”Sejauh dan selama apa pun kau akan pergi, saat kau kembali dan tidak menemukanku di mana pun,cari aku di sini. Aku akan selalu ada, di bawah pohon ini, berdoa semoga matahari mendengar permohonanmu.”

Walaupun berat bagiku untuk meninggalkanmu saat itu, tapi aku tetap tersenyum. Menjawab iya saat merengkuhmu dalam pelukku. Dan aku bersumpah akan mendaki kembali ke tempat ini. Sejauh dan selama apa pun aku pergi.

Aku tahu kau selalu adil.

Tahukah kau matahari sudah merangkak sampai ke tempat tertingginya di langit? Tapi kau tidak juga bangun untuk menyapanya. Kau masih ingin membuatnya menanti, membuatku menanti.

Tahukah kau betapa aku telah begitu merindukanmu? Aku telah kembali untukmu, tapi aku tidak bisa sepenuhnya memenuhi sumpahku. Aku tidak mendaki ke sana. Tidak tanpamu.

Aku kembali duduk, dan memulai hariku seperti berpuluh-puluh hari sebelumnya sejak aku kembali. Menanti senyummu dalam diam, membelai wajahmu dalam hening. Menggenggam erat tanganmu, tidak berdaya melawan ketidakberdayaanmu.

Aku ingin matahariku terbit.

Adilkah bagi kami untuk terus menantimu menyapa kami lagi?

Terlalu mulukkah harapan itu?

Senja menghampiri, mengingatkan siang untuk kembali ke balik cakrawala, dan mempersiapkan singgasana langit untuk ditempati bulan.

Bayang-bayang pucat itu telah berganti menjadi sapuan warna jingga yang remang. Wajahmu masih sepucat sebelumnya, dan tanganmu masih terasa dingin dalam genggamanku. Masih juga kau ingin aku menanti.

Sampai sejauh mana kau hendak berkelana dalam mimpimu? Seindah apa tempat itu hingga pesonanya mampu membuatmu bertahan menjelajahinya? Seberapa rupawan wajah langit di sana hingga sanggup mencurimu dariku?

Aku memang tidak selalu adil. Tapi aku berusaha memenuhi sumpahku. Sumpah untuk kembali. Dan satu sumpah rahasia yang tak terkatakan.

Sumpahku untuk mewujudkan permohonan di bawah pohon itu. Tak peduli matahari sudah mendengarnya atau tidak.

Senja terlelap dengan cepat.

Lihatlah. Bulan telah datang kembali. Tak bergeming dalam keanggunannya di antara tirai bintang, berusaha membisikimu dengan cahayanya yang samar-samar menyusup di antara bingkai jendelamu.

Lihatlah. Betapa malam selalu memberi senyum yang terindah bagimu. Betapa ia mencintaimu sebesar kau mencintainya.

Dan aku tahu kau selalu adil.

Kau tidak akan membiarkan kami terus menanti. Kau tidak akan pernah bisa berkelana terlalu lama dan melewatkan bulan. Kau tidak akan menelantarkanku tanpa memberi jawaban.

Dalam tangis-tangis sunyi dan isak-isak lirih di sekelilingmu, akhirnya kau menjawab sapaku. Tidak dengan selamat pagi, tidak dengan selamat malam.

Sampai bertemu lagi.

Malam akhirnya menawanmu untuk selamanya. Menjadikanmu salah satu bintang yang mendampingi bulan.

Di sana kau berbaring dalam abadimu. Di bawah pohon itu. Di mana aku akan selalu bisa menemukanmu, sejauh dan selama apa pun aku pergi.

Mungkin matahari tak pernah mendengar permohonanku. Tapi biarlah bumi menyampaikan yang tak terkatakan itu padamu.

Dia akan menjadi pengantinku di sini.

Selamat malam, matahariku. Aku merindukanmu.


Dalam kenangan tentang sahabat.